Ruang Giri Wijaya

GIRI WIJAYA

Ruangan Giri Wijaya

 

Giri Wijaya yang merupakan bangunan utama dan ikon Wikasatrian dengan simbol keindonesiaan. Nama Giri Wijaya sendiri berarti gunung Wijaya. Giri berarti gunung, sedangkan Wijaya berasal dari nama WIKA, Wijaya Karya. Di sisi kiri pengunjung apabila ia menghadap bangunan Giri Wijaya, terhampar pepohonan padat yang saling bertumpuk seperti yang ada di sebuah hutan hujan tropis. Pengunjung dapat melihat antara lain pohon Afrika, pohon petai cina, pohon kueni, yang tumbuh liar. Saking padatnya, kita tidak bisa lagi melihat dasar hutan tersebut dari atas. Bila dilihat dari sisi barat, Giri Wijaya tampak seperti gunung. Hal ini merepresentasikan citra Indonesia sebagai kawasan yang dikelilingi oleh Cincin Api atau ring of fire. Kondisi geografis Indonesia juga memiliki banyak gunung api yang di satu sisi menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang rawan bencana letusan gunung api, gempa dan tsunami, namun di sisi lain juga menjadikan Indonesia sebagai wilayah yang subur dan kaya secara hayati. Selain itu, hal ini juga merepresentasikan letak Giri Wijaya sendiri yang berada di ketinggian 500 meter di atas permukaan laut, dan dikelilingi oleh tiga gunung, yakni Gunung Gede Pangrango, Gunung Salak, dan Gunung Geulis Bila dilihat dari sisi utara, Giri Wijaya tampak seperti kapal. 

 

Terdapat tujuh ‘Dek’ yang melambangkan tujuh layar seperti pada kapal pinisi. Hal ini merepresentasikan jati diri bangsa sebagai bangsa maritim. Bila dilihat dari atas, bentuk gedung Giri Wijaya tampak seperti bentuk raga Semar. Bentuk raga Semar bisa dikatakan amorf, alias tidak jelas bentuknya. Dalam bangunan tersebut tidak ada satu pun sudut yang sama. morf (tidak berbentuk) merepresentasikan fleksibilitas seorang pemimpin dalam menghadapi perubahan dan kondisi apa pun. Sementara sosok Semar dipilih karena merepresentasikan seorang pamong. Dari atas pula kita dapat melihat adanya tiga cungkup di atas bangunan Giri Wijaya yang terlihat seperti Semar. Hal ini mewakili ketiga gunung yang mengelilinginya, yaitu Gunung Gede Pangrango, Gunung Salak, dan Gunung Geulis. Hal ini juga mewakili ketuhanan, kemanusiaan, dan alam, yang merupakan tiga ranah utama dalam model kepemimpinan berbasis kearifan lokal yang diusung Wikasatrian. Dinding-dinding luar Giri Wijaya yang dibuat tujuh lapis, seluruhnya dari kaca, 360 derajat. Hal ini merujuk pada educational kinesiology, atau ilmu tentang gerakan tubuh dan hubungannya terhadap fungsi otak. Apabila seseorang berada di dalam ruangan kaca dan matanya bisa menembus kira-kira jarak 50 meter, maka mata hampir tidak berkontraksi. Dengan begitu seseorang dapat merasa segar terus untuk mengikuti pelatihan. Selain itu kaca juga menghadirkan hutan di sekitarnya masuk ke dalam ruangan. 

 

Dibuat tujuh tingkatan melambangkan jumlah layar pada kapal pinisi yang merupakan citra bahari Indonesia, angka tujuh juga memiliki banyak makna. Tujuh juga merupakan jumlah warna pada pelangi. Tarian Pitu yang merupakan tujuh sistem peradilan adat di Toraja. Seminggu terdiri dari tujuh hari. Langit lapis tujuh. Bumi lapis tujuh. Seperti halnya di dalam gunung selalu terdapat gua, maka pintu masuk Giri Wijaya juga dirancang dengan bentuk seperti pintu gua. Dalam pembelajaran saat ini metode yang lebih dikenal adalah metode coaching, bukan teaching. Semar adalah simbol dari coaching karena sosoknya yang arif bijaksana serta tidak menggurui, namun ia dihormati oleh kawan-kawannya sebagai seorang pamong Terdapat empat ruang yang dapat digunakan yaitu: Giri Sasana, Giri Budaya, Giri Cipta, dan Giri Pustaka Di dalam Giri Wijaya terdapat empat ruangan yang merepresentasikan masing-masing Punakawan,yaitu Bagong, Petruk, Gareng, dan Semar. Ruangan paling besar yaitu Giri Sasana merepresentasikan Bagong yang bertubuh besar. Giri Pustaka dibuat pendek dan lebar seperti Semar. Sementara Giri Budaya berbentuk lancip seperti Petruk, dan Giri Cipta bentuknya cengkrek seperti Gareng.

Rp. 0 / malam

AGENDA KAMI

SERVICES

RUANG LAINNYA

>